Saturday, April 7, 2012

Sweetest Man Alive



Rabu, 4 April 2012
Dalam percakapan lewat Blackberry Messenger
Dia  : Lagi dimana? Udah pulang dari kampus belum?
Saya: Masih lagi ngerjain tugas. masih banyak banget nih tugasnya huhu.
Dia  : Iya, tapi lo dimana sekarang car?
[Tidak ada balasan lagi]

2 jam kemudian dalam percakapan lewat SMS 
Dia  : Deee. udah dimana sih? di BBM gak dibales-bales lagi. 
         Sekarang lo sibuk banget car. Tau ah, sebel.
Saya: Pacaar. Maap, tadi lagi ribet ngerjain tugas terus kehujanan. 
        Tapi sekarang udah di kosan lagi kok. Jangan ngambek :3
[Tidak ada balasan lagi]

4 jam kemudian dalam usaha menghubungi dia

Saya: Kemana sih dia? ditelpon berkali-kali enggak diangkat juga.

Setelah usaha menelepon yang ke-berapa belas kali

Dia  : Halo? [background suara yang sangat berisik]
Saya: Lo dimana car? berisik banget sih? 
         Kok ga diangkat-angkat teleponnya? Marah yaa?
Dia  : Masih di jalan nih. Enggak. Gak papa kok, gue ga marah. 
         Udah dulu ya, nanti kalo udah sampe kosan, gue telpon lo, car.
Saya: Oke (walau merasa ada yang salah).

Jam 6 pagi keesokan harinya, dan terbangun tanpa ada telepon lagi dari dia

Saya: Huh. Katanya mau nelepon.
[SMS Masuk]
Percakapan dalam SMS
Dia  : Pagi :)
Saya: Sebel ah gue sama lo. Katanya mau nelepon, 
         tapi enggak ditelpon lagi tadi malam. Terus gue lagi 
         sibuk ngerjain tugas, malah diambekin gitu. Dihubungin gak bisa >:(
Dia  : Makanya, sini didatengin pacarnya :D
Saya: Jauh.
Dia  : Gue udah di Jakarta nih.
Saya: ..... (Hening dan diam sejenak)
         Jakarta?
Dia  : Iya, udah jangan marah-marah lagi. Pacarnya udah ada di Jakarta nih :)


My sweetest man alive.
A courageous knight in a shining Semarang-Jakarta train 
who come to rescue me, a damsel in distress.
Thank you for the sweet surprise. 
it was the best gift a girl in a long distance relationship could ask :*

Sunday, March 25, 2012

One Thing That's Real

So many changes happened in life, lately. New friends, new environments, and new challenges to conquer. 
in the past, i always have a group of bestfriends to talk to. people who listen to my rambling, no matter how random they were. we love and sometimes despise each other because the too-often frequency of our meetings. but at least with them, i don't have to tiptoe around, trying to find some opening for me to come inside. because no matter what, they always welcomed me. i'm one of them. i belong there. just like your own home, where you don't have to knock the door and push the bell button to come inside.

but lately, i feel so fake. so isolated. so lonely, that when i think again, i don't really have bestfriends now. of course, there are friends. good friends to talk to, joke around, and spend some good times. but it's different. because with them, i feel like i have to tiptoe around. waiting for them to signaling me and say, "yes, you may come inside". we talk a lot, and sometimes sharing our secrets and pieces of mind. talking about past, present, and hope. but, they are not the people i run into when i feel sad and whom i seek comfort when some things get tough.

it's kinda lonely sometimes. it makes me think, to whom i'm gonna seek help when someday i need it? but then, there's one name come up. one person who always there, giving comfort and consolation. a person who listens to all my rambling, and laughing even to the most not funny, silly imaginations that i have. he accept me for who i am and open his door all the time. to him, i don't have to knock any door, because i always welcomed. i belong there. and he is my home. thank you for being a great boyfriend, and foremost, the very best friend a girl could ask, Jangkung :)


Saturday, December 10, 2011

Remember the Night

Do you still remember that night?
The night when we sat down at the fast food restaurant,
while you waiting on me decided answer to what could be the biggest decision in our life?

I want to share you a secret.
Pstt.. that night, when the clock chimed 12 times and the midnight came..

Actually I didn't know what to say.
My heart conflicted so much that i can't hear anything clearly.


So I just whisper prays in my breath.

"Bismillah, bismillah, bismillah. If he is my destiny God, so let us unite, and make him the best for me."
And i took the bravery to say yes.
A simple word that take us so far.

And today, I thank God for the courage.
For without it, we will never exist together.
And I will never found you, my whole package in one deal.

Bismillah. Happy 6th monthversary, may we always be what we all needed :*


















Sunday, November 27, 2011

Life. Love. Passion.

hampir 4 bulan berlalu sejak tulisan terakhir saya, dan hampir 7 bulan sudah lewat sejak pertama kali saya meninggalkan Jakarta dan berangkat ke Semarang. Ada begitu banyak hal yang sudah terjadi, begitu banyak pengalaman yang memberikan warna, dan membuat saya bertanya-tanya sendiri, bagaimana bisa 7 bulan merubah begitu banyak?
it's definitely 7 months of wonder, and let me share this with you.


Life.
hidup saya mulai berubah pada bulan November 2010 yang lalu, ketika saya memutuskan untuk memilih jalur karir di perbankan. beberapa bulan setelah menjalaninya, saya tahu bahwa keputusan tersebut adalah keputusan yang saya sesali. tetapi pernahkah kalian mendengar tentang bagaimana, hal-hal kecil yang terjadi di masa lalu sebenarnya adalah potongan-potongan puzzle untuk melengkapi sebuah rencana besar yang lebih baik di masa depan?
Saya percaya akan hal tersebut, karena di kemudian hari keputusan yang saya sesali tersebut ternyata menjadi suatu jalan yang mempertemukan saya dengan berbagai pengalaman, petualangan, persahabatan, dan cinta. 

Maret 2011 merupakan bulan dimana saya mendapatkan penugasan pertama. my heart almost sank when i heard the announcement. I got Semarang. sejujurnya, dengan pengetahuan Geografis setingkat Amoeba, saat itu saya bahkan tidak tahu Semarang berada di Jawa bagian mana. semuanya terdengar begitu asing, dan kenyataan hidup bahwa semua keluarga saya tinggal dan beranak pinak di Jakarta, membuat segalanya terasa lebih menakutkan. pindah ke Semarang secara otomatis akan membuat saya tinggal di kota yang belum pernah saya kenal, sendirian. belum lagi ditambah dengan kenyataan saya harus bekerja disana, lengkap dengan semua tekanan dan stres yang diberikan.

but somehow, deep down in my mind, i feel like everything is gonna be just fine. saya cemas, tetapi seperti ada keyakinan bahwa apapun yang terjadi, akhirnya akan baik-baik saja.
dan dimulailah perjalanan saya menuju Semarang. kota dimana semuanya berawal :)

minggu-minggu awal di Semarang, saya bertemu sekelompok orang-orang ini.




kebanyakan dari mereka adalah para perantau yang terdampar di Semarang seperti saya, dan bersama mereka, Semarang terasa seperti rumah kedua. Saya hanya menghabiskan waktu 5 bulan di kota itu, tetapi petualangan dengan mereka semua membuat saya merasa mengenal hampir semua sudut kota Semarang jauh lebih banyak dibandingkan Jakarta.

Saya sangat menyukai petualangan dan travelling. Tetapi walaupun travelling selalu masuk ke dalam daftar hobi saya, sejujurnya selama di Jakarta saya hanya pernah mengunjungi Bandung, Puncak, Carita, Lampung dan paling jauh adalah Bali dan Singapura. Ketika berada di Semarang lah saya baru dapat merasakan petualangan dan travelling yang sesungguhnya :D
Jepara adalah kota pertama yang saya kunjungi ketika berada di Semarang. Dengan menaiki sebuah Jeep tua, saya dan teman-teman melintasi jalanan luar kota di Jawa Tengah. It was amazingly sooo muuuch fun! Kami seperti berada di sebuah petualangan off-road, melintasi jalan malam dengan Jeep besar dan kaca mobil yang terbuka lebar. Ditambah lagi perjalanan kali ini baru diputuskan di menit-menit terakhir, sehingga dengan gaya backpacking saya hanya membawa 2 pasang baju dan uang 100 ribu. 





Perjalanan-perjalanan selanjutnya ke Kudus, Jogja, Solo, Surabaya, dan Malang pun selalu dilakukan dengan cara yang sama. Semuanya penuh dengan spontanitas, and life is about right here, right now!

Bersama dengan mereka, Semarang mengajarkan saya mengenai persahabatan dan bagaimana menerima orang dengan tangan terbuka. Saya termasuk orang terakhir yang datang ke Semarang, dan sebelum saya datang semua teman-teman saya sudah saling mengenal satu sama lain. Tetapi dengan terbuka mereka menerima saya, dan hal yang sama pun terus terjadi dengan orang-orang baru yang datang ke dalam lingkaran pertemanan kami. Satu hal yang selalu saya ingat setiap bertemu dengan mereka adalah, sesi pertandingan UNO kami yang bisa berlangsung berjam-jam lamanya, dari sore hingga tengah malam. it's almost like a tradition, i think :D

Di Semarang saya belajar menikmati hidup. saya belajar bahwa kebahagiaan tidak sulit untuk diperoleh dan dapat muncul dalam berbagai hal, bahkan pada hal paling sederhana sekalipun. saya belajar untuk menikmati kegembiraan yang muncul ketika kami menjelajahi Pantai Bandengan dan sepanjang Pulau Panjang dengan baju yang basah, lalu kering silih berganti. saya belajar untuk tertawa lepas saat kami semua duduk di angkringan dan lesehan di berbagai penjuru kota, menikmati gudeg, es coro-coro, nasi kucing, dan berbagai macam makanan lainnya yang saya yakin tidak akan pernah saya beli saat hanya sendiri. saya belajar untuk menikmati perjalanan dengan bus malam, tempat duduk yang sempit, dan mensyukuri setiap waktu tidur yang diperoleh. saya belajar, untuk menikmati alam sebagaimana adanya.



Passion.


"I try to build my career by doing the things that I really love. For me it is never about the prestige or a better salary. Choose your passion rather than your desire for money. It would be like Holiday all year long!"

saya menemukan tulisan ini di salah satu akun twitter yang di retweet oleh @ReneCC, salah satu career coach yang cukup menginspirasi saya. tulisan ini saya temukan ketika masih bekerja di Semarang, dan menjadi salah satu pendorong cukup kuat yang membuat saya memutuskan mengejar passion.

Do you ever have a passion? things that you would happily do, no matter how hard it is?

I do.
sejak kelas 3 SD, saya selalu ingin menjadi seorang psikolog. ini merupakan kisah panjang yang bermula dari sibling rivalry dan berakhir pada keinginan untuk mempelajari ilmu psikologi. setiap langkah dan keputusan yang saya buat sejak SD hingga bangku kuliah, semuanya dibuat dengan satu tujuan.
Untuk menjadi seorang psikolog.

saya mencintai ilmu yang menjadi core compentency saya ini. Psikologi telah banyak berperan dalam mengajari dan merubah saya menjadi lebih baik, untuk memahami diri sendiri dan alasan dari berbagai perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang disekitar. akan tetapi, tuntutan untuk mencari pekerjaan setelah selesai kuliah membuat saya tidak berpikir panjang ketika itu, dan langsung mengambil kesempatan pertama yang ditawarkan. 

Bukannya tidak bersyukur dengan pekerjaan yang saya peroleh, karena saya pun memperoleh manfaat yang sangat besar setelah bekerja di sana. tidak hanya jumlah gaji yang cukup besar untuk seorang Fresh Graduate, tetapi juga jenjang karir yang sangat baik, dan kesempatan luar biasa untuk mempelajari ilmu perbankan serta financial planning. tetapi bagaimanapun juga, itu bukanlah saya.

saya selalu merasa seperti orang lain selama berada di sana dan tertekan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa saya nikmati, bagaimanapun saya mencoba. semakin keras saya mencoba untuk beradaptasi, semakin besar keyakinan saya untuk berhenti memaksakan diri dan mulai berusaha mengejar impian yang sempat saya kesampingkan sebelumnya.
Saya hanya tidak mau menyesal.
saya tidak ingin melihat ke belakang 10 tahun dari sekarang, bertanya-tanya kemana saja hidup saya selama ini dan menyesali semua kesempatan yang sudah lewat.
Kesempatan yang bisa saya raih seandainya saya mempunyai keberanian dan sedikit kenekatan untuk mengambil resiko, demi kebebasan.

Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk mengambil jalan keluar. memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saat itu bukanlah sebuah proses mudah seperti yang biasa dilakukan karyawan kebanyakan di perusahaan lain. Hal ini disebabkan karena posisi dan jabatan saya di tempat bekerja sedikit berbeda, mengharuskan saya melewati beberapa tahapan birokrasi yang berliku dan memiliki keberanian untuk menghadapi tentangan dan larangan dari pihak senior dan atasan.

But in the end, i made it.

the smell of freedom felt so good.
it's really good to have a hold of my life, once again, in my own hands.
now, i get to decide what i really want to do with my life.
 

dan hal pertama yang saya lakukan adalah mendaftarkan diri untuk mengikuti program pendidikan Magister Psikologi.
Yap. saya memutuskan untuk langsung mengejar mimpi saya.
Setelah beberapa tahapan tes, pada akhirnya saya resmi menjadi mahasiswa calon psikolog :)
Proses belajar yang harus saya lalui saat ini sebagai seorang mahasiswa magister tidaklah mudah. malah kadang kala saya merasa bahwa kini saya harus bekerja jauh lebih keras, dibandingkan dulu ketika bekerja di kantor. belum lagi, saat ini saya tidak mendapatkan gaji. kebalikannya, saya harus membayar ke universitas sejumlah uang yang hampir sama dengan jumlah gaji per bulan yang saya dapatkan dulu.


Tapi entah bagaimana, saat ini terasa jauh lebih menyenangkan.
Maybe this is what people called doing the job with passion.
Melelahkan, tapi rasanya super duper ikhlas dan bahagia :D



Love.

It's funny to think that I have to travel all the way to Semarang to find love.
To have someone so compatible with me, that it feels like we are another half to each other.
But i guess, that's just how life rolls. You never know with whom you're gonna end up with.

belum banyak yang saya tuliskan mengenai dia, so let me introduce him.
His name is Agi Gilang Pratama.
Dia adalah my whole package in one deal. Kenapa?

Karena dia adalah semuanya.
Ia adalah sahabat, sharing partner, teman jorok-jorokan dan melakukan kegiatan bodoh, serta pacar yang menjadi tempat terakhir saya bercerita dan berbagi sebelum mengakhiri hari.
Ada begitu banyak kisah yang saya alami bersama dirinya. Kisah bodoh dan lucu serta kisah manis yang selalu membuat saya tersenyum, tidak peduli berapa kali saya mengulangi kejadian tersebut dalam memori.

Pertemuan pertama saya dengannya terjadi di waktu yang sama dengan pertemuan pertama saya dengan teman-teman baru di Semarang. Setelah pertemuan tersebut, saya, dia, dan anak-anak lainnya banyak menghabiskan waktu bersama, terutama setiap weekend, untuk menjelajahi kota Semarang dan kota-kota disekitarnya.
Saya tidak tahu sejak kapan persahabatan saya dengannya menjadi berbeda dari persahabatan saya dengan yang lainnya. Yang saya tahu, saya sangat menikmati setiap waktu yang kami habiskan bersama. baik saat kami bermain UNO bersama yang lain hingga tengah malam di Peacock, atau waktu berdua yang kami habiskan untuk berbincang mengenai banyak hal dari jam 8 malam hingga 6 pagi keesokan harinya di restoran McDonald 24 jam.
Waktu tidak pernah terasa cukup ketika berada bersama dia.

Saya menyukai kepribadiannya.
Saya menyukai kedewasaannya dan atensi penuh yang dia berikan di setiap perbincangan kami.
Saya menyukai fakta, bahwa bersama dia, saya bisa membicarakan apapun.
Dari isu perbankan, rencana investasi dan harga IHSG hari itu, hingga ke isu sosial, seksualitas, dan dilema kaum gay serta topik diskriminasi dan prasangka yang selama ini saya pelajari selama kuliah.
Ia selalu bisa menjadi sahabat atau pacar, di waktu yang tepat, ketika saya membutuhkannya.


Saya mencintai kesabarannya.
Saya mencintai caranya memperlakukan saya.
Saya mencintai tawa gelinya setiap kali ia melihat kebodohan yang saya perbuat.

Bagaimana ia hanya bisa terperangah ketika tanpa sengaja saya menumpahkan kuah soto di wajahnya, sementara saya yang masih tertawa histeris menyadari kebodohan diri sendiri belum bisa melakukan apa-apa untuk membersihkan kuah tersebut.
Atau bagaimana suara tawanya selalu terdengar di telepon setiap malam, ketika saya membagikan satu lagi cerita tentang kecerobohan yang saya lakukan.
Ya. saya suka semua tentang dia.
Just like people said, love starts from simple things.

Kini kami sedang tidak berada di kota yang sama. Saya kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah, sementara ia tetap di Semarang untuk menyelesaikan kewajibannya. Tetapi, bagi saya, jarak bukanlah masalah. Because distance is just a number, as long as the hearts stay close.
And my heart, is right next close to you.


 

Saturday, June 11, 2011

June Chapter

June came. 
and it brings along new promises and hopes of happiness and love.
i started a new chapter of life in this month.
11th June, 2011 to be exact :)

there are so many tales and stories that i want to share.

but it seems that i never have enough time to write it down.
so in this very short time i have, i just want to share this.
to memorize one more memory of happiness.

life comes with its ups and downs.

and while i had my downs,
i have my ups now.
God has been kind to me.

as i told you before, Semarang has give me a lot of blessing.

it gives me friends and adventures.
amazing trips to towns around Middle Java with an old Jeep,
riding the road with the windows open and laughter in the background.

and most importantly, it gives me companionship.

along with the friendships that grew 
and the love of exploring towns and having fun, i'm falling.
falling for what? i haven't found the words to describe what we have.

all i know is,
the hours and nights we spent in conversations,

the witty banter we threw at each other,
the comfortable silence we enjoy,
and the reluctance to come home when it's time,
i don't want to lose it.

so, hello Agi Gilang Pratama :)
Hello June.
may happiness, certainty, and love surround us.


cheers! 

Tuesday, June 7, 2011

Splendid City

it's been over than 2 months since i've arrived in this city.
Semarang was not a familiar word for me before i landed here. 
I came here with a wounded heart and the feeling of loneliness.
stranded in a place i never go before.

but now, surrounded by new job, new friends, along with exciting 
adventures and trips around Middle Java, i started to fall in love.
falling in love with the city itself, the people, and the kindness i've found around.


i guess Life and God always have their own way to give what I need the most.
and these memories, is something that I will keep forever no matter where i'll be later.


Hello Semarang. Thank You for the happiness and friendships i've found :)


talk again later guys.
cheers!

Monday, April 25, 2011

The Last Walk to Remember

apakah kamu masih ingat kisah tentang bagaimana kita bertemu?
aku masih ingat. 
kisah tentang pertemuan sederhana.
kisah yang dulu kita harap dapat diceritakan hingga 100 tahun mendatang.

apakah kamu masih ingat bagaimana cerita tentang kita mengalir?

apa? kamu lupa?
ya, aku juga sama. waktu terus mengikis ingatanku tentang kamu dan kita.

tetapi kini untuk yang terakhir kalinya, aku ingin mengenang semuanya.

menuliskannya, agar kelak kita tidak benar-benar melupakan, bahwa aku pernah hadir di dalam hidup kamu, dan kamu pernah menjadi yang utama di dalam hidupku.


Apakah kamu tahu?
foto ini adalah foto pertama kamu yang aku lihat. sebelumnya, aku tidak mengenalmu.

butuh waktu berminggu-minggu bagiku untuk memutuskan apakah aku mau menjadi teman kamu atau tidak, dan berbulan-bulan sebelum aku mengijinkanmu untuk mengenalku lebih jauh.
tetapi beruntunglah saya (dan kamu), untuk mempunyai kesempatan saling mengenal, karena waktu itu adalah 14 bulan terbaik yang pernah aku bagi dengan seseorang.


hey, ingatkah kamu pada pertemuan pertama kita?

ingatkah kamu pada kecanggungan itu?
dan bagaimana untuk berbulan-bulan kedepannya, kita selalu mempraktekkan kembali pertemuan pertama itu setiap kamu menurunkanku di depan halte kampus?
aku ingat.
dan aku pun masih mengingat kekagetanku, disaat kamu turun dari motor dan berdiri.
aku merasa seperti berjalan di samping raksasa, karena kamu begitu tinggi.


aku selalu menyenangi kencan pertama kita.
aku senang bukan karena film yang kita tonton, atau tempat kemana kita pergi.
tapi aku menikmati waktu ketika kita berbelanja di supermarket dan menyelinapkan makanan ke dalam bioskop. hal itu membuatku tahu, bahwa aku bisa bersenang-senang dan berbuat jahil bersama kamu.
I've found my perfect partner in crime.

kemudian, hari minggu yang cerah dalam perjalanan menuju Gadog dan foto yang kamu buat sesudahnya.
hari itu sesungguhnya adalah hari yang dipenuhi keraguan bagiku.
aku nyaman bersama kamu, 
tetapi apakah kita sudah cukup mengenal satu sama lain?
siapa kamu yang sesungguhnya?
dan.. apakah kita akan bahagia?

aku melihat kamu yang berada di sampingku, dan semua keraguan itu menguap.

aku tidak tahu mengenai masa depan, tetapi dengan kamu, aku akan mencobanya.
kita belum mengenal banyak, tetapi melihat kamu dan mendengarkan perkataan hatiku, 
aku tahu bahwa semua akan baik-baik saja.
kamu akan menjagaku, dan aku akan menyayangi kamu. my big, lovely man..


do you still remember our college moments?
our fun dates?
ingatkah kamu pada semua perjalanan kereta api yang kita lalui? semua canda tawa, kelelahan, kebahagiaan sederhana yang kita bagi selama petualangan kecil kita? 
petualangan yang membawa kita ke tempat-tempat yang sudah terlupakan begitu kita beranjak dewasa. petualangan yang mengajarkan bahwa kesenangan akan selalu dapat kita temukan dimanapun kita berada. 
meskipun diantara kereta ekonomi yang penuh sesak, jalanan basah sehabis hujan, ataupun teriakan anak kecil yang sibuk berlarian ketika kita memilih hari yang salah untuk berkunjung ke Seaworld. 

bersama aku, bersama kamu, dimanapun itu adalah hari yang menyenangkan. 

karena seperti yang pernah kamu katakan,
"yesterday was a good day within a bad day.
good day, because I was with you.
bad day, because it was raining."
but being with me, totally beat the bad day, right? :)






waktu begitu baik kepada kita karena memberikan aku dan kamu 7 bulan yang menyenangkan. 7 bulan yang kita bagi diantara waktu skripsi dan menghabiskan waktu bersama. 7 bulan yang diakhiri dengan janji yang ditepati untuk saling mendampingi satu sama lain.

apakah kamu tahu apa yang membuatku tetap berjuang 

untuk menyelesaikan skripsi tepat waktu?
aku ingin mendampingimu. 
aku ingin bersama kamu, di hari ketika kita memakai toga.
kita sudah berjanji bukan?
untuk saling mendampingi satu sama lain, ketika wisuda datang?
and this is me. fulfilled my promise.





it was one of the happiest day in my life.
i got my dream to learn psychology fulfilled.
i was surrounded by all of my family members.
and i had you. 
we graduated together. 
we fought for it, and we won.








college ended. and it was time to face the real world.
time for both of us to grow as adults.
it just, at that time, i didn't know that as we grow, we'll grow apart.
what i know at the time, was only that you look good in suit.
we both look good in our professional banker's suits :)
tetapi seiring dengan kesibukan kita, waktu berjalan dengan cepat.
tekanan meningkat dan janji-janji pun dilupakan.
semula kita mengira bahwa semua akan baik-baik saja.
tetapi konsekuensi dari pilihan yang telah kita tetapkan,
membuat kita memilih.
aku memilih kamu.
tetapi kepastian akan pilihanku, memberikan harapan yang membebani kamu.
kamu dan kehidupanmu.

kita terus berusaha.

di tengah kesibukan untuk meluangkan waktu.
untuk membuat satu sama lain tidak menunggu dan tersisih.
dan betapa aku semakin menghargai setiap momen yang kita miliki bersama,
setiap kepedulian yang terucapkan,
dan canda tawa yang terlontar disela ujian dan pembelajaran.
tetapi itu semua tidak bertahan lama.
aku tau bahwa aku sudah kehilanganmu, lama sebelum kamu melepasku.
masalah timbul dan kita tidak bisa mengatasinya.
mungkin karena kita kurang berlatih.
kurang berlatih untuk marah dan mengatasi kemarahan.
untuk kecewa dan mengucapkan penghiburan.
dan yang terlebih, 
untuk jauh dan tetap menjaga kedekatan.

aku berusaha. demi Tuhan, aku berusaha.

untuk kamu. untuk kita. 
untuk sesuatu yang layak diperjuangkan.
untuk seorang pria hebat, yang aku tahu kamu akan menjadi.
dan untuk seorang wanita, yang tidak akan berhenti mencintai.

 
tetapi disinilah kini kita berada.
terpisah di dua tempat yang akan terasa dekat jika kita berjuang.
tetapi kini menjauh karena kita belajar untuk melupakan.
melupakan bahwa kita memiliki satu sama lain,
dan memilih untuk berjalan sendiri.


dan di kota ini,
untuk terakhir kalinya saya melakukan perjalanan kembali untuk mengingat.
mengingat kebahagiaan dan tawa yang dihasilkan.
serta kesedihan dan air mata yang dirasakan.
untuk tidak melupakan seseorang yang telah memberikan rasa nyaman.
seseorang yang telah menjadi rumah bagi saya.
because a home, is where your heart is.
and my heart, is used to belongs to you.

kita adalah kenangan yang indah.

dan aku tidak ingin menghilangkannya begitu saja, 
seolah kita tidak pernah berarti apa-apa.
dan seperti yang pernah kubilang,
menghapus foto dan melupakan cerita kita,
akan terasa seperti menghilangkan satu bagian besar dari hidupku.
dari hidup kita.
dan bagiku, kamu dan kita terlalu berarti untuk diperlakukan seperti itu.
so here's for you. and for me.

The Last Walk to Remember.