Sunday, December 27, 2009

Live. Right here. Right now. Right at this moment.


don't look back on what already passed.

don't try to peek what the future will offer.
just live for this moment.
right here.
right now.
savor it.
cherish it.
give the best to it with your heart wide open.

and may the happiness be ours :))


So, now I'm putting both of my feet out of the door and closing it.
Thanks for everything.

And thanks for nothing.



cheers.

Thursday, December 24, 2009

500 (Days) of My Life

tadi siang di rumah makan Dapur Sambal Depok, saya dan teman saya si Edina mengobrol sambil makan siang. Dari obrolan itu, pada akhirnya kami sampai pada perbincangan seperti ini:

Sy: mungkin gak sih ada orang yang pada satu saat menyukai seseorang, lalu besoknya memutuskan bahwa dia tidak suka lagi pada orang itu?
E : Ya nggak mungkinlah. emang manusia itu robot.
Hmm...(berpikir sejenak) tapi tergantung juga, sukanya itu semana. kalau cuma suka kayak "wah, dia lucu ya", mungkin aja bisa besoknya mutusin kalo orang itu gak lucu lagi.
Sy: kalau sukanya membuat orang itu cukup mau melakukan berbagai hal buat cewek yang dia suka, mungkin gak kalau besoknya dia memutuskan "oke, gue gak suka lagi" ?
E : Enggaklah. Gak mungkin langsung seperti itu, tapi mungkin itu terjadi secara gradually.

Dan saya langsung teringat dengan potongan dialog dari 500 (days) of Summer.

I am messed up.
I know I am.
You know, on the one hand I want to forget her.
But on the other hand,
I know that she's the only person in the entire universe that will make me happy.
You think back on the times you had with someone,
Replay it in your head over and over again
and look for those first signs of trouble.
-Tom Hansen-
Ya. mungkin perubahan seperti itu tidak terjadi secara mendadak ya, akan tetapi secara bertahap.
Dan ketika tahap perubahan itu mulai disadari, kita terus berusaha mencari apa yang menjadi penyebabnya.
Dan disitulah semua masalah bermula.
Ketika kita menyadari dengan sepenuh hati dan pikiran bahwa ada perubahan yang terjadi, tetapi tidak bisa mengetahui apa yang menyebabkannya dan siapakah yang salah.
Saya?
Dia?
Atau Keadaan?


Hey Tom.
I know you think that she was the one, but I don't.
Now,
I think you're just remembering the good stuff.
Next time you look back,
I really think you should look again.
-Rachel Hansen-

Sy: Din, lo udah nonton 500 (Days) of Summer belum? gue suka deh sama dialog Rachel yang bilang ke Tom kalau "
Next time you look back, I really think you should look again".
E : Emang maksudnya gimana?
Sy: Iya. Dia kan jatuh cinta sama ceweknya itu kan. Dan adenya Tom, si Rachel, bilang bahwa mungkin Tom menganggap bahwa dia adalah yang paling baik untuk dirinya. Tapi Tom bisa berpikir seperti itu karena dia hanya berusaha untuk mengingat kenangan-kenangan manis dari masa lalunya aja. Padahal kan yang namanya masa lalu itu terdiri dari kenangan yang baik dan yang buruk. Makanya Rachel bilang ke Tom, kalau nanti dia mau melihat ke belakang lagi, dia harus benar-benar
melihat semuanya, tidak hanya yang baik saja.
Karena kalau didalam hubungan itu yang ada hanya hal yang manis saja dan semuanya menyenangkan, kenapa mereka bisa berpisah?



Jadi, pada saat saya melihat kebelakang lagi, saya juga harus benar-benar melihat.
Dengan obyektif.
Tanpa sentimental melankolis lagi.



CHEERS :)

Wednesday, December 23, 2009

Everlasting stay


"I want the one that stays.
I want the one that lasts through out the time."

-dea-



Gue mau banget deh ini.
Satu yang bertahan, yang tak lekang oleh waktu.
Bukannya menclak-menclok kesana kemari.
Cape juga kan harus selalu memulai prosesnya dari awal lagi, beradaptasi dari awal lagi.
Apa asiknya coba.
maaf saja, saya tidak berbakat jadi nelayan pukat harimau sih.


Ck.

cheers.

Tolong Saya!


It's Time for Me to Stop.


Saya benar-benar ingin berhenti menulis tentang dia.
Tetapi saya tidak bisa.
Karena ada begitu banyak yang masih tersimpan di dalam.
Dan saya perlu mengeluarkannya.
Saya tahu saya harus berhenti menuliskan hal seperti ini di media publik.
Saya masih ingat perkataan dia untuk tidak mengumbar permasalahan pribadi di media online.
Saya sangat tahu dengan kebiasaan dia untuk menulis status-status social site yang sangat pendek dan simpel.

Tetapi saya tidak bisa.

Karena saya perlu menuangkan semua ini.
Mengubah pikiran-pikiran abstrak menjadi struktur-struktur kalimat.
Agar saya lega.
Agar saya bebas.
Agar saya terlepas dari beban bayangan akan dia.
Agar suatu hari nanti, di saat kami bertemu lagi,
Saya bisa benar-benar menjadi temannya.

Benar-benar seorang teman yang peduli kepada kamu.
Tetapi tidak peduli dengan cara seperti yang dulu saya miliki kepada kamu.
Dan tentunya, agar saya bisa menjadi seorang teman yang tidak seperti
Ada Udang dibalik Bakwan.

(Itu kan yang dulu sering kamu ceritakan ke saya?)

Percayalah, pada saat kita bertemu lagi, saya tidak akan seperti itu.
Saya tidak akan seperti Si Udang dibalik Bakwan yang tidak kamu suka itu.
Karena saya mampu mendeferensiasi emosi.
Membedakan dan menetapkan batasan.
Bahkan mungkin lebih baik dari kamu.

Karenanya, saat ini biarkanlah saya menulis sedikit lebih banyak lagi tentang kamu.
Agar saya bisa mengeluarkan semua.
Agar saya bisa melupakan.
Bukan pengalamannya, tetapi emosinya.
Agar saya bisa menjadi teman kamu.
Teman kamu yang sesungguhnya.
Sehingga kamu tidak usah lagi menghindari saya.


cheers.

Scattered pieces of life

hari ini saya baru saja menyelesaikan UAS terakhir dalam semester 7 ini, yaitu UAS mata kuliah Etika.
Berakhirnya UAS ini cukup berarti besar bagi saya dan teman-teman angkatan 2006 yang lain, karena setelah UAS ini kami resmi menjadi mahasiswa non-class dan (insya allah) tidak akan menghadapi UAS apapun lagi sampai kami resmi menjadi S.Psi.

HOORAAY !!

Mengingat bagaimana kesiapan dan perasaan saya saat mengerjakan UAS itu tadi, saya merasa cukup puas dan senang karena saya merasa bisa dengan lumayan mengerjakan semuanya.
Di malam sebelumnya saya bisa mempelajari semua bahan ujian itu dengan konsentrasi penuh.
dan tadi malam pun fokus saya hanya tertuju pada handout-handout itu.

Keadaan ini adalah keadaan yang jauh berbeda dengan malam sebelum UTS Etika pada waktu itu.
Malam dimana saya hanya bisa menatap buku di depan saya dengan pandangan kosong.
Malam ketika saya merasa begitu takut.
Cemas.
Khawatir.
Dan sedih.
Karena memikirkan keberadaan orang yang tidak jelas juntrungannya.
Orang yang disaat saya jungkir balik karena khawatir dan bertanya-tanya mungkin malah tidak memikirkan saya samasekali.
Dan membuat saya tidak bisa membaca tulisan apapun di depan saya, karena bukan itu yang ada di pikiran saya.

Sehingga sebagai hasilnya, nilai UTS Etika saya terjun bebas tanpa parasut.

Terima kasih loh.
Nilai jelek itu benar-benar menampar saya di muka dan memberikan pemandangan yang tidak indah di SIAK-NG.

Oleh karenanya, sekarang saya memutuskan untuk membereskan kembali potongan-potongan hidup saya yang cukup tidak teratur akhir-akhir ini.
Karena fokus dalam hidup bukan hanya mengenai satu orang saja.
Terutama bukan orang yang bahkan mungkin tidak sadar bahwa dia punya arti penting dalam hidup saya.

Sekarang saya mau berhenti merasa sedih.
Saya mau ibu saya berhenti bilang bahwa kini saya tidak tertawa sebanyak dulu lagi sejak mengenal orang itu.
Saya mau berhenti terus melihat ke belakang dan berharap bisa kembali mengulang hal-hal menyenangkan itu.

Dan terutama, saya tidak mau mendapatkan nilai jelek lagi.
Karena saya mau lulus sebagai S.Psi di bulan Agustus 2010, bersama dengan teman-teman 2006 lainnya dan dinyanyikan ribuan Maba di balairung.

Kini setelah usaha yang lumayan keras, rasanya saya sudah cukup berhasil.
Berhasil untuk menyatukan potongan-potongan yang sebelumnya sempat saya abaikan.
Karena kini, saya sudah bisa tertawa lagi.
Saya sudah mulai memandang kedepan lagi.
Saya sudah mulai berhenti bertanya 'mengapa?' dan berusaha menghormati keputusannya.
Saya sudah bisa tersenyum ketika fragmen-fragmen memori itu muncul kembali tanpa diminta.

Oiya, dan yang terakhir.
Sepertinya saya sudah cukup berhasil, karena saya berhasil belajar Etika dengan sukses tadi malam.

Yippie-Kaiyeee.

Friday, December 18, 2009

A Standing Ovation for You, Sir

Baru saja melakukan blog walking ke salah satu blog teman sekampus, saya menemukan sesuatu yang membuat saya ingin berdecak kagum, bertepuk tangan, sekaligus tertawa miris dengan perasaan sedih.

Kenapa?

Karena saya baru menyadari bahwa di satu atau beberapa postingan kami berdua, terdapat satu kesamaan.
Kami terilhami oleh seseorang.

Seseorang yang kami kenal
Seseorang yang tidak sempurna
Seseorang yang kami tahu mempunyai banyak kekurangan,
Tetapi disaat yang bersamaan mampu menarik kepedulian kami.

Seseorang yang pada suatu waktu pernah menjadi pusat orbit kami dan yang kemudian membuat kami terjatuh di dasar gravitasi yang paling dalam.
Ia adalah seseorang yang menjadi sumber kecemasan kami
Seseorang yang terus membuat kami bertanya dan menduga.


Ia mungkin tidak tahu tentang semua hal ini.
Ia mungkin tidak peduli.
Atau mungkin tidak berusaha untuk tahu dan peduli.
dan memilih untuk berpikir dengan jalan berpikirnya sendiri yang tidak dapat cukup kami mengerti.

tetapi saya tahu.
Saya tahu apa yang teman saya rasakan.
Saya tahu lebih dari yang seseorang itu kira saya tahu.
Saya tahu karena kemudian saya juga merasakannya.

Dan kini saya ingin bertepuk tangan.
Saya ingin memberi hormat.
Saya ingin memberi acungan jempol kepada kamu yang dengan begitu gemilangnya menyentuh kehidupan kami.
Mengisinya dengan segala kekurangan kamu yang kemudian menjelma menjadi kelebihan yang melengkapi kami.

Ya, saya ingin memberikan banyak pujian kepada kamu.
Karena hanya dengan menjadi kamu, kamu bisa menyakiti kami.

Dan itu adalah hal yang hebat.
Kamu hebat.
And I'll give you a standing ovation for that, Mister.


cheers.


Wednesday, December 16, 2009

Hubungan Interpersonal Tidak Berstruktur

Menjelang UTS Psikologi Konseling yang lalu, saya diharuskan untuk membaca satu buku Psikologi Konseling yang dibuat oleh Ibu Jeannette Murad Lesmana, dosen kuliah Psikologi Konseling kelas saya. Ketika membaca buku tersebut, ada satu bab yang secara otomatis langsung membuat saya tertawa terbahak-bahak dengan miris dan membuat Citra, teman saya, yang saat itu sedang menumpang nginap di kamar kosan jadi menatap saya dengan bingung.

kenapa saya bisa langsung tertawa seperti itu?
Karena di halaman pertama Bab 3 mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Konseling, saya menemukan kalimat-kalimat yang mengatakan seperti ini:

Dari 5 faktor yang mendukung konseling, salah satunya adalah Struktur.
Struktur menurut Gladding (1992) adalah sebuah pemahaman bersama antara konselor dan klien mengenai karakteristik, kondisi, prosedur, dan parameter konseling.
Struktur membantu memperjelas hubungan antara konselor dan klien, memberinya arah, melindungi hak masing-masing, serta peran dan obligasi dari konselor maupun klien dan menjamin konseling yang sukses. Selain itu, dengan adanya struktur dapat mengurangi ambiguitas dalam hubungan tersebut.

Bahaya Jika Struktur Tidak Kuat

Struktur sangat penting karena bila konselor tidak memberi struktur, ia tidak fair kepada klien-kliennya karena para kliennya kemudian jadi tidak tahu apa yang disebut dengan konseling.
Klien akan merasa tidak aman, bingung dan takut, dan ia juga tidak bertanggung jawab untuk suksesnya konseling.
Kurangnya pemberian struktur ini menimbulkan kecemasan dalam diri klien dan mungkin menyebabkan kegagalan konseling.
nah, sekarang coba gantikan posisi klien dengan diri anda sendiri.
lalu gantikan posisi konselor dengan seseorang, dimana anda sedang menjalin hubungan.
gantikan kata struktur dengan kata status.
dan yang terakhir gantikan kata konseling dengan kata hubungan interpersonal (as in relationship).

can you see this in a different perspective?

membaca penjelasan mengenai struktur dalam hubungan konseling diatas, saya merasa penjelasan itu sangat dapat diterapkan didalam kondisi kehidupan disekitar saya, dimana keadaan tersebut mirip dengan yang dialami seseorang yang saya kenal dekat.

seperti yang dikatakan oleh Lesmana (2006), didalam sebuah hubungan (dalam hal ini saya akan lebih menekankan ke hubungan interpersonal antar lawan jenis) diperlukan sebuah status yang merupakan hasil dari kesepakatan bersama mengenai kondisi, prosedur, dan parameter dari hubungan interpersonal tersebut.

Kondisi yang dimaksud adalah situasi dimana kedua orang yang menjalin hubungan berada. apa yang mau mereka lakukan dan apa tujuan yang ingin dicapai oleh mereka berdua ketika memutuskan untuk mengenal satu sama lain secara lebih dekat lagi.

Prosedur adalah cara yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam melakukan pendekatan kepada pihak yang lainnya. Cara pendekatan haruslah dilakukan dengan sehati-hati mungkin sehingga tidak menimbulkan salah paham kepada salah satu pihak dan menyakiti pihak yang tidak bersalah. ketika melakukan prosedur konseling maka konselor (sang lawan jenis) diharapkan untuk terlebih dahulu telah merasa yakin dengan intensi mereka, sehingga hubungan yang telah dibina dapat berjalan dengan baik dan tidak ada pihak yang mengundurkan diri di tengah berjalannya konseling. hal ini terutama ditujukan kepada pihak Konselor, karena penerapan prosedur yang tidak jelas dan / atau mundurnya Konselor di tengah berjalannya sesi konseling dapat menyebabkan kebingungan dan kepanikan pada Klien mereka.

kemudian yang terakhir adalah Parameter dalam hubungan interpersonal. ketika melakukan sebuah hubungan, konselor dan juga klien sangat disarankan untuk membicarakan parameter hubungan mereka. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada gesture-gesture yang dapat menimbulkan kebingungan dan membuat klien mempertanyakan maksud dari sesi konseling atau hubungan antara dirinya dan sang Konselor. sang Konselor pun diharapkan untuk konsisten dengan treatment (perlakuan) yang telah ia berikan kepada sang klien dari awal sesi konseling mereka dan tidak menyangkal apa yang telah ia berikan pada klien ketika di tengah-tengah sesi konseling ia mengalami perubahan pikiran atau ketika menganggap bahwa sesi konseling ini mungkin tidak akan berhasil.
Kejujuran dan Keberanian untuk mengatakan hal yang sebenarnya adalah elemen penting yang harus dimiliki oleh seorang konselor (baca: lawan jenis).

Dari ketiga elemen Struktur (atau Status) diatas, maka dapat kita lihat bahwa Status sangat penting agar kedua belah pihak yang terlibat didalam Hubungan dapat terhindar dari ambiguitas. Hal ini dikarenakan status membantu memperjelas hubungan antara diri anda dan lawan jenis, memberikan arah yang jelas, dan yang paling penting melindungi hak-hak masing-masing pihak dalam rangka mewujudkan hubungan interpersonal yang sukses.

seperti yang telah tertera diatas, Lesmana (2006) juga menyatakan bahwa salah satu alasan mengapa sebuah struktur itu sangat penting didalam sebuah Konseling adalah karena Konselor haruslah bersikap fair (adil) kepada Kliennya dengan cara memberikan sebuah struktur kepada mereka, sehingga sang Klien akan memperoleh pemahaman yang jelas mengenai apa yang disebut sebagai sebuah Konseling.
jadi, jika anda berada diposisi sebuah hubungan interpersonal, sangatlah penting bagi sang Lawan Jenis untuk menetapkan status yang jelas atas hubungan yang ada diantara anda berdua. jika sang Konselor tidak juga dapat memberikan struktur didalam sesi konseling, maka anda pun berhak untuk mempertanyakan maksud dari Hubungan yang ada.
karena kunci dari hubungan yang sehat adalah: Komunikasi yang lancar dari kedua belah pihak.

Tidak adanya Komunikasi yang baik diantara kedua belah pihak dapat menyebabkan diri Klien merasa tidak aman, bingung, dan takut. hal ini dapat dipahami, karena didalam sebuah hubungan, diperlukan adanya pemahaman bersama, seperti yang telah disebutkan sebelumnya oleh Lesmana (2006), akan posisi dari Klien dan Konselor. Konselor yang baik akan selalu berusaha agar tidak timbul kecemasan di dalam diri Klien karena kurangnya struktur (dalam hal ini penegasan akan status) yang kemudian dapat menyebabkan timbulnya permasalahan-permasalahan lain dan mengarah kepada gagalnya hubungan interpersonal yang telah terbina.
Seperti yang telah diketahui bersama oleh banyak orang, Kepercayaan dan Sikap Berpikir Positif adalah sesuatu yang diperoleh dengan usaha dan pembuktian, dan bukannya terberi begitu saja.

Ketika suatu sesi Konseling tidak berjalan dengan semestinya dan sang klien justru merasa semakin terpuruk, bingung, dan tidak memperoleh pencerahan dari sesi Konseling yang dilakukan bersama dengan Konselor, maka mungkin itulah saat dimana Klien bisa mempertanyakan kembali Kondisi, Prosedur, dan Parameter yang sebenarnya dari sang Konselor.
atau untuk lebih singkatnya, ketika anda berada didalam kondisi hubungan Interpersonal yang tidak jelas dan itu membuat anda merasa bingung, tidak aman, cemas, dan mempertanyakan semua yang sudah anda alami, maka mungkin itu adalah saat yang paling tepat untuk memperjelas segalanya.

because my friend, dalam kehidupan nyata, sesi Konseling yang dilakukan dengan Konselor yang tidak jelas, biasa disebut dengan Hubungan Tanpa Status.
dan percayalah pada saya, *walaupun saya tidak berbicara mengenai ini dari pengalaman sendiri* tetapi Hubungan seperti itu tidak pernah memberikan efek baik dan hanya bisa memberikan emosi-emosi negatif kepada pihak yang dirugikan.

Pilihlah konselor yang dapat anda percaya, yang dengan jelas sudah memberikan Peta jalannya Konseling sejak awal sesi Konseling (Lesmana, 2006) dimana sang Konselor dengan bertanggung jawab sudah menjelaskan dari awal apa saja yang ingin ia lakukan dalam sesi Konselingnya bersama anda dan tidak berkelit atau berusaha mengubah arah Konseling (Hubungan) ketika didalam prosesnya, Hubungan tersebut menghadapi halangan atau rintangan.
Masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk dihindari.

So people, choose wisely..
karena sakit gigi tidak enak, tetapi sakit Hati lebih tidak enak lagi.
karena tidak ada Dokter Gigi yang bisa menambal hati secara instan pada saat sakit.
pada saat hati yang sakit, yang bisa kita lakukan hanya berusaha berjuang dengan coping mechanism kita masing-masing untuk berusaha melupakan, memaafkan, dan bergerak maju lagi. dan proses itu adalah proses yang memakan waktu tidak singkat dan butuh darah serta air mata untuk melakukannya. Jadi waspadalah! :)

selamat menjalani hidup,

dan

cheers!


REFERENSI:

Lesmana, J.M. (2006). Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia UI Press.