Thursday, October 4, 2012

Let the Past Stay

I don't know about the future.
We might or might not still be together.
All I know right now is, you are what really matter.

But even when the day come when we're not together.
Please, don't erase me and let me stay for a while.
Let me occupy a small space inside you.
Because what we have always matter.
Whether we are together or separate.

All those small moments. 

Silly laughs.
Life prints of what we have and already going through.
Everything matter.
it's un-erase-able.


cheers to the past, present, and future.

Sunday, August 19, 2012

Inside Punishment


Pertama-tama, saya ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H terlebih dahulu bagi semuanya yang sedang bertandang ke blog saya.
Kedua, marilah bersama-sama kita menyimak satu kisah yang ingin saya sampaikan hari ini.
Dan beginilah ceritanya..

Beberapa hari yang lalu saya berbuka puasa bersama dengan teman-teman kepanitiaan kampus yang saya ikuti pada tahun 2009 yang lalu. Acara buka puasa ini merupakan salah satu acara yang cukup saya nanti-nantikan karena saya menyukai semua orang yang berada dalam kepanitiaan ini. Mereka adalah sekumpulan orang gila dan bodoh dengan becandaan yang absurd. And,i like it!
Selain itu, alasan mengapa saya sangat bersemangat untuk mengikuti acara ini adalah karena kami semua juga menunggu kedatangan satu orang teman kami. Dia adalah seseorang yang cukup banyak diperbincangkan akhir-akhir ini oleh kami karena kedekatannya dengan anak lain di kepanitiaan.

Memang salah kalau seorang pria dekat dengan wanita?

Tidak sih. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut kalau memang 
dia hanya dekat dengan satu wanita dan tidak punya reputasi sebagai playboy. Tetapi ini kenyataannya berbeda karena sejak tiga tahun yang lalu saya mengenal pria ini, perilakunya tidak pernah berubah. Dia selalu mendekati wanita-wanita (terkadang lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan), mengangkat-angkat mereka serta memberi harapan, hanya untuk kemudian dijatuhkan lagi, dan berdalih bahwa ia hanya menganggap mereka sebagai teman atau sepupu (!) saja. Kemudian parahnya, untuk memperdaya wanita-wanita itu dia selalu memainkan peran sebagai pria baik-baik yang salah dimengerti oleh lingkungan, sehingga selalu dinilai jahat. Wanita mana yang tidak merasa tersanjung dipercaya oleh pria tampan ini untuk mengerti dirinya.

Ketika kami sedang asyik memperbincangkan dia, ada beberapa teman saya yang kemudian berkata, "Emang dia gak takut kena karmanya ya? Apakah dia gak pernah mikir bahwa dengan menyakiti hati cewek seperti itu, suatu hari dia tidak akan mendapat perlakuan yang sama atau bahkan berkali-kali lipat lebihnya?"
Kemudian seorang teman saya yang lain menjawab, "Kayaknya enggak tuh. Buktinya aja sampe sekarang masih aman-aman aja tuh dia, masih bisa ngedeketin cewek kayak gitu. Padahal kita udah tau dia sekitar 3 tahunan, tapi enggak pernah gue denger beritanya dia dapet akibat dari perbuatannya."
Pada waktu itu, mendengar hal tersebut saya sempat gemas juga. Rasanya gondok sekali, karena benar seperti yang kedua teman saya bilang, hingga saat ini saya tidak pernah mendengar dia mendapatkan konsekuensi dari perilakunya. Selain itu, hingga saat ini dia masih dengan enaknya kok mendekati dan memberi harapan kepada para cewek di sekitarnya.

Namun beberapa hari kemudian setelah buka bersama tersebut, saya kembali berpikir. Hmm iya, mungkin secara kasat mata, hidup pria ini masih enak sekali. Walaupun dia mempunyai reputasi yang super negatif, tetapi dengan kelihaiannya dia masih bisa mendekati wanita. Dengan mudahnya, ia bisa berganti-ganti wanita dalam hitungan bulan, bahkan minggu.
Akan tetapi, sebenarnya dia sudah mendapatkan hukumannya. Dalam bentuk apa? Menurut saya, hukuman tersebut datang dalam ketidakmampuannya untuk mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pasangannya dan ketidaksadaran diri akan kesalahan dan kekurangannya.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar bahwa pria teman saya ini pernah berkata, bahwa ia iri dengan orang-orang yang bisa mempertahankan hubungan romantis mereka dalam jangka waktu yang lama hingga bertahun-tahun. hal ini disebabkan karena ia sendiri tidak pernah berhasil mempertahankan hubungannya melebihi beberapa bulan.
For me, i think it's a big curse. Siapa sih manusia yang ingin sendiri? Menurut saya, pada dasarnya semua orang pasti ingin berpasang-pasangan, memiliki partner hidup yang dapat diandalkan dan keluarga untuk menjejakkan kaki serta berlabuh.

Melihat pola perilaku pria ini yang selalu berganti-ganti pasangan dengan seenaknya dan selalu berbohong membuat saya bertanya-tanya. Sampai kapan dia mau terus mencari? Terus berganti dan tidak pernah berhenti untuk menyadari bahwa tidak akan ada yang sempurna, dan kadang yang bisa kita lakukan hanyalah menemukan yang paling sesuai and make it work as best as we can. 
Dan menurut saya itulah hukuman terberat buat dia.
Rasa ketidakpuasan, keinginan untuk terus mencari sesuatu yang ia juga tidak tahu apa, serta ketidakmampuan untuk tahu kapan waktunya berhenti dan bertahan hanya mencintai satu orang hingga kapanpun. 

Selain itu, menurut saya ketidakmampuan dirinya untuk mengetahui kekurangan dan dampak yang ia timbulkan dari perilakunya juga merupakan suatu bentuk hukuman tersendiri. Tiga tahun selalu mendengar kisah dan sepak terjangnya membuat saya sedikit banyak tahu modus operandinya. Pria ini adalah tipe orang yang selalu menyalahkan lingkungan. Ia selalu membuat seakan dunia berkonspirasi untuk menjatuhkannya dan dia hanyalah korban yang tidak berdosa. Ia juga mempunyai kecenderungan untuk menyalahkan mantan atau orang-orang yang pernah dekat dengan dirinya, atas kegagalan dari hubungan mereka. Hal ini membuat dirinya tidak pernah mampu belajar dari pengalaman dan kesalahannya. Sejak pertama kali saya mengenal dirinya hingga saat ini, tidak ada perubahan yang berarti atau tingkat kematangan emosional yang membaik dari dirinya. 
Tidak mampu berintrospeksi dan benar-benar menerima serta mengakui kesalahan diri itu layaknya seperti berjalan dengan mata dan telinga tertutup. Kita hanya bisa terus berjalan, tanpa melihat kemana arah kita menuju, atau orang dan benda apa saja yang telah kita tabrak dan sakiti selama proses perjalanan itu. Kita juga tidak dapat mengetahui umpan balik dari orang-orang disekitar mengenai apa saja yang telah kita lakukan dan perlu diperbaiki. Akibatnya, hingga akhir sulit bagi kita untuk berubah ke arah yang lebih baik.


That for me, is the ultimate punishment.
To never change, never become better and always walking in a circle like a dog who chase its own tail, and to never have a place to harbour and called home, would be too scary for me to imagine. And all i can say to him is, "You are so deserve that, pal!" :)

HAPPY IDUL FITRI 1433 H 

cheers!

Friday, May 11, 2012

Remember You

saya baru menonton satu film berjudul The Vow tadi siang.
film ini menceritakan mengenai pasangan suami istri, dimana setelah suatu kecelakaan yang menyebabkan sang istri mengalami cedera otak, ia menjadi amnesia dan melupakan suami serta kehidupan pernikahan mereka. film ini kemudian menceritakan mengenai berbagai usaha yang suami itu lakukan untuk mengingatkan kembali sang istri akan dirinya, kehidupan pernikahan, dan cinta yang mereka miliki kepada satu sama lain.

menonton film tersebut membuat saya berpikir kepada hubungan yang saya miliki dengan pacar, dan hal tersebut membuat saya sedih. call me blinded by love or whatever, tapi bagi saya, hubungan yang saya miliki dengan pacar adalah suatu hubungan yang ideal. jenis hubungan yang tidak dapat ditemukan dengan mudah.

dia tahu saya dengan sangat baik, 
dan dapat menjadi sahabat serta teman berbagi cerita. disaat saya memerlukan, ia bisa menjadi orang yang menawarkan kenyamanan, penghiburan, dan selalu mengucapkan semua kata tepat yang ingin saya dengar. seperti pasangan di film ini, kami membuat tradisi dan kebiasaan sendiri. saya dan dia belajar untuk menjadi nyaman dengan satu sama lain dan mengembangkan canda, lelucon, dan gestur kami sendiri. hal yang mungkin akan terkesan cheesy atau aneh bagi orang lain, tetapi dapat menyatukan kami.
And imagine to forget it all.

melupakan bahwa saya menyukai semua lelucon dan caranya meledek saya. 
melupakan bahwa ia selalu dapat membedakan kapan kegalauan yang saya rasakan berasal dari film-film Korea yang saya tonton, PMS, atau memang ada hal lain yang menyebabkannya.
atau melupakan semua nama panggilan yang kami ciptakan dan bahasa-bahasa kode yang kami miliki.

well, now you can see why that movie made me cried.


hey, jangkung. i'm so thankful for all the day we spent remembering each other. may we always in good shape and grow old together :D 


Saturday, April 7, 2012

Sweetest Man Alive



Rabu, 4 April 2012
Dalam percakapan lewat Blackberry Messenger
Dia  : Lagi dimana? Udah pulang dari kampus belum?
Saya: Masih lagi ngerjain tugas. masih banyak banget nih tugasnya huhu.
Dia  : Iya, tapi lo dimana sekarang car?
[Tidak ada balasan lagi]

2 jam kemudian dalam percakapan lewat SMS 
Dia  : Deee. udah dimana sih? di BBM gak dibales-bales lagi. 
         Sekarang lo sibuk banget car. Tau ah, sebel.
Saya: Pacaar. Maap, tadi lagi ribet ngerjain tugas terus kehujanan. 
        Tapi sekarang udah di kosan lagi kok. Jangan ngambek :3
[Tidak ada balasan lagi]

4 jam kemudian dalam usaha menghubungi dia

Saya: Kemana sih dia? ditelpon berkali-kali enggak diangkat juga.

Setelah usaha menelepon yang ke-berapa belas kali

Dia  : Halo? [background suara yang sangat berisik]
Saya: Lo dimana car? berisik banget sih? 
         Kok ga diangkat-angkat teleponnya? Marah yaa?
Dia  : Masih di jalan nih. Enggak. Gak papa kok, gue ga marah. 
         Udah dulu ya, nanti kalo udah sampe kosan, gue telpon lo, car.
Saya: Oke (walau merasa ada yang salah).

Jam 6 pagi keesokan harinya, dan terbangun tanpa ada telepon lagi dari dia

Saya: Huh. Katanya mau nelepon.
[SMS Masuk]
Percakapan dalam SMS
Dia  : Pagi :)
Saya: Sebel ah gue sama lo. Katanya mau nelepon, 
         tapi enggak ditelpon lagi tadi malam. Terus gue lagi 
         sibuk ngerjain tugas, malah diambekin gitu. Dihubungin gak bisa >:(
Dia  : Makanya, sini didatengin pacarnya :D
Saya: Jauh.
Dia  : Gue udah di Jakarta nih.
Saya: ..... (Hening dan diam sejenak)
         Jakarta?
Dia  : Iya, udah jangan marah-marah lagi. Pacarnya udah ada di Jakarta nih :)


My sweetest man alive.
A courageous knight in a shining Semarang-Jakarta train 
who come to rescue me, a damsel in distress.
Thank you for the sweet surprise. 
it was the best gift a girl in a long distance relationship could ask :*

Sunday, March 25, 2012

One Thing That's Real

So many changes happened in life, lately. New friends, new environments, and new challenges to conquer. 
in the past, i always have a group of bestfriends to talk to. people who listen to my rambling, no matter how random they were. we love and sometimes despise each other because the too-often frequency of our meetings. but at least with them, i don't have to tiptoe around, trying to find some opening for me to come inside. because no matter what, they always welcomed me. i'm one of them. i belong there. just like your own home, where you don't have to knock the door and push the bell button to come inside.

but lately, i feel so fake. so isolated. so lonely, that when i think again, i don't really have bestfriends now. of course, there are friends. good friends to talk to, joke around, and spend some good times. but it's different. because with them, i feel like i have to tiptoe around. waiting for them to signaling me and say, "yes, you may come inside". we talk a lot, and sometimes sharing our secrets and pieces of mind. talking about past, present, and hope. but, they are not the people i run into when i feel sad and whom i seek comfort when some things get tough.

it's kinda lonely sometimes. it makes me think, to whom i'm gonna seek help when someday i need it? but then, there's one name come up. one person who always there, giving comfort and consolation. a person who listens to all my rambling, and laughing even to the most not funny, silly imaginations that i have. he accept me for who i am and open his door all the time. to him, i don't have to knock any door, because i always welcomed. i belong there. and he is my home. thank you for being a great boyfriend, and foremost, the very best friend a girl could ask, Jangkung :)


Saturday, December 10, 2011

Remember the Night

Do you still remember that night?
The night when we sat down at the fast food restaurant,
while you waiting on me decided answer to what could be the biggest decision in our life?

I want to share you a secret.
Pstt.. that night, when the clock chimed 12 times and the midnight came..

Actually I didn't know what to say.
My heart conflicted so much that i can't hear anything clearly.


So I just whisper prays in my breath.

"Bismillah, bismillah, bismillah. If he is my destiny God, so let us unite, and make him the best for me."
And i took the bravery to say yes.
A simple word that take us so far.

And today, I thank God for the courage.
For without it, we will never exist together.
And I will never found you, my whole package in one deal.

Bismillah. Happy 6th monthversary, may we always be what we all needed :*


















Sunday, November 27, 2011

Life. Love. Passion.

hampir 4 bulan berlalu sejak tulisan terakhir saya, dan hampir 7 bulan sudah lewat sejak pertama kali saya meninggalkan Jakarta dan berangkat ke Semarang. Ada begitu banyak hal yang sudah terjadi, begitu banyak pengalaman yang memberikan warna, dan membuat saya bertanya-tanya sendiri, bagaimana bisa 7 bulan merubah begitu banyak?
it's definitely 7 months of wonder, and let me share this with you.


Life.
hidup saya mulai berubah pada bulan November 2010 yang lalu, ketika saya memutuskan untuk memilih jalur karir di perbankan. beberapa bulan setelah menjalaninya, saya tahu bahwa keputusan tersebut adalah keputusan yang saya sesali. tetapi pernahkah kalian mendengar tentang bagaimana, hal-hal kecil yang terjadi di masa lalu sebenarnya adalah potongan-potongan puzzle untuk melengkapi sebuah rencana besar yang lebih baik di masa depan?
Saya percaya akan hal tersebut, karena di kemudian hari keputusan yang saya sesali tersebut ternyata menjadi suatu jalan yang mempertemukan saya dengan berbagai pengalaman, petualangan, persahabatan, dan cinta. 

Maret 2011 merupakan bulan dimana saya mendapatkan penugasan pertama. my heart almost sank when i heard the announcement. I got Semarang. sejujurnya, dengan pengetahuan Geografis setingkat Amoeba, saat itu saya bahkan tidak tahu Semarang berada di Jawa bagian mana. semuanya terdengar begitu asing, dan kenyataan hidup bahwa semua keluarga saya tinggal dan beranak pinak di Jakarta, membuat segalanya terasa lebih menakutkan. pindah ke Semarang secara otomatis akan membuat saya tinggal di kota yang belum pernah saya kenal, sendirian. belum lagi ditambah dengan kenyataan saya harus bekerja disana, lengkap dengan semua tekanan dan stres yang diberikan.

but somehow, deep down in my mind, i feel like everything is gonna be just fine. saya cemas, tetapi seperti ada keyakinan bahwa apapun yang terjadi, akhirnya akan baik-baik saja.
dan dimulailah perjalanan saya menuju Semarang. kota dimana semuanya berawal :)

minggu-minggu awal di Semarang, saya bertemu sekelompok orang-orang ini.




kebanyakan dari mereka adalah para perantau yang terdampar di Semarang seperti saya, dan bersama mereka, Semarang terasa seperti rumah kedua. Saya hanya menghabiskan waktu 5 bulan di kota itu, tetapi petualangan dengan mereka semua membuat saya merasa mengenal hampir semua sudut kota Semarang jauh lebih banyak dibandingkan Jakarta.

Saya sangat menyukai petualangan dan travelling. Tetapi walaupun travelling selalu masuk ke dalam daftar hobi saya, sejujurnya selama di Jakarta saya hanya pernah mengunjungi Bandung, Puncak, Carita, Lampung dan paling jauh adalah Bali dan Singapura. Ketika berada di Semarang lah saya baru dapat merasakan petualangan dan travelling yang sesungguhnya :D
Jepara adalah kota pertama yang saya kunjungi ketika berada di Semarang. Dengan menaiki sebuah Jeep tua, saya dan teman-teman melintasi jalanan luar kota di Jawa Tengah. It was amazingly sooo muuuch fun! Kami seperti berada di sebuah petualangan off-road, melintasi jalan malam dengan Jeep besar dan kaca mobil yang terbuka lebar. Ditambah lagi perjalanan kali ini baru diputuskan di menit-menit terakhir, sehingga dengan gaya backpacking saya hanya membawa 2 pasang baju dan uang 100 ribu. 





Perjalanan-perjalanan selanjutnya ke Kudus, Jogja, Solo, Surabaya, dan Malang pun selalu dilakukan dengan cara yang sama. Semuanya penuh dengan spontanitas, and life is about right here, right now!

Bersama dengan mereka, Semarang mengajarkan saya mengenai persahabatan dan bagaimana menerima orang dengan tangan terbuka. Saya termasuk orang terakhir yang datang ke Semarang, dan sebelum saya datang semua teman-teman saya sudah saling mengenal satu sama lain. Tetapi dengan terbuka mereka menerima saya, dan hal yang sama pun terus terjadi dengan orang-orang baru yang datang ke dalam lingkaran pertemanan kami. Satu hal yang selalu saya ingat setiap bertemu dengan mereka adalah, sesi pertandingan UNO kami yang bisa berlangsung berjam-jam lamanya, dari sore hingga tengah malam. it's almost like a tradition, i think :D

Di Semarang saya belajar menikmati hidup. saya belajar bahwa kebahagiaan tidak sulit untuk diperoleh dan dapat muncul dalam berbagai hal, bahkan pada hal paling sederhana sekalipun. saya belajar untuk menikmati kegembiraan yang muncul ketika kami menjelajahi Pantai Bandengan dan sepanjang Pulau Panjang dengan baju yang basah, lalu kering silih berganti. saya belajar untuk tertawa lepas saat kami semua duduk di angkringan dan lesehan di berbagai penjuru kota, menikmati gudeg, es coro-coro, nasi kucing, dan berbagai macam makanan lainnya yang saya yakin tidak akan pernah saya beli saat hanya sendiri. saya belajar untuk menikmati perjalanan dengan bus malam, tempat duduk yang sempit, dan mensyukuri setiap waktu tidur yang diperoleh. saya belajar, untuk menikmati alam sebagaimana adanya.



Passion.


"I try to build my career by doing the things that I really love. For me it is never about the prestige or a better salary. Choose your passion rather than your desire for money. It would be like Holiday all year long!"

saya menemukan tulisan ini di salah satu akun twitter yang di retweet oleh @ReneCC, salah satu career coach yang cukup menginspirasi saya. tulisan ini saya temukan ketika masih bekerja di Semarang, dan menjadi salah satu pendorong cukup kuat yang membuat saya memutuskan mengejar passion.

Do you ever have a passion? things that you would happily do, no matter how hard it is?

I do.
sejak kelas 3 SD, saya selalu ingin menjadi seorang psikolog. ini merupakan kisah panjang yang bermula dari sibling rivalry dan berakhir pada keinginan untuk mempelajari ilmu psikologi. setiap langkah dan keputusan yang saya buat sejak SD hingga bangku kuliah, semuanya dibuat dengan satu tujuan.
Untuk menjadi seorang psikolog.

saya mencintai ilmu yang menjadi core compentency saya ini. Psikologi telah banyak berperan dalam mengajari dan merubah saya menjadi lebih baik, untuk memahami diri sendiri dan alasan dari berbagai perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang disekitar. akan tetapi, tuntutan untuk mencari pekerjaan setelah selesai kuliah membuat saya tidak berpikir panjang ketika itu, dan langsung mengambil kesempatan pertama yang ditawarkan. 

Bukannya tidak bersyukur dengan pekerjaan yang saya peroleh, karena saya pun memperoleh manfaat yang sangat besar setelah bekerja di sana. tidak hanya jumlah gaji yang cukup besar untuk seorang Fresh Graduate, tetapi juga jenjang karir yang sangat baik, dan kesempatan luar biasa untuk mempelajari ilmu perbankan serta financial planning. tetapi bagaimanapun juga, itu bukanlah saya.

saya selalu merasa seperti orang lain selama berada di sana dan tertekan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa saya nikmati, bagaimanapun saya mencoba. semakin keras saya mencoba untuk beradaptasi, semakin besar keyakinan saya untuk berhenti memaksakan diri dan mulai berusaha mengejar impian yang sempat saya kesampingkan sebelumnya.
Saya hanya tidak mau menyesal.
saya tidak ingin melihat ke belakang 10 tahun dari sekarang, bertanya-tanya kemana saja hidup saya selama ini dan menyesali semua kesempatan yang sudah lewat.
Kesempatan yang bisa saya raih seandainya saya mempunyai keberanian dan sedikit kenekatan untuk mengambil resiko, demi kebebasan.

Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk mengambil jalan keluar. memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saat itu bukanlah sebuah proses mudah seperti yang biasa dilakukan karyawan kebanyakan di perusahaan lain. Hal ini disebabkan karena posisi dan jabatan saya di tempat bekerja sedikit berbeda, mengharuskan saya melewati beberapa tahapan birokrasi yang berliku dan memiliki keberanian untuk menghadapi tentangan dan larangan dari pihak senior dan atasan.

But in the end, i made it.

the smell of freedom felt so good.
it's really good to have a hold of my life, once again, in my own hands.
now, i get to decide what i really want to do with my life.
 

dan hal pertama yang saya lakukan adalah mendaftarkan diri untuk mengikuti program pendidikan Magister Psikologi.
Yap. saya memutuskan untuk langsung mengejar mimpi saya.
Setelah beberapa tahapan tes, pada akhirnya saya resmi menjadi mahasiswa calon psikolog :)
Proses belajar yang harus saya lalui saat ini sebagai seorang mahasiswa magister tidaklah mudah. malah kadang kala saya merasa bahwa kini saya harus bekerja jauh lebih keras, dibandingkan dulu ketika bekerja di kantor. belum lagi, saat ini saya tidak mendapatkan gaji. kebalikannya, saya harus membayar ke universitas sejumlah uang yang hampir sama dengan jumlah gaji per bulan yang saya dapatkan dulu.


Tapi entah bagaimana, saat ini terasa jauh lebih menyenangkan.
Maybe this is what people called doing the job with passion.
Melelahkan, tapi rasanya super duper ikhlas dan bahagia :D



Love.

It's funny to think that I have to travel all the way to Semarang to find love.
To have someone so compatible with me, that it feels like we are another half to each other.
But i guess, that's just how life rolls. You never know with whom you're gonna end up with.

belum banyak yang saya tuliskan mengenai dia, so let me introduce him.
His name is Agi Gilang Pratama.
Dia adalah my whole package in one deal. Kenapa?

Karena dia adalah semuanya.
Ia adalah sahabat, sharing partner, teman jorok-jorokan dan melakukan kegiatan bodoh, serta pacar yang menjadi tempat terakhir saya bercerita dan berbagi sebelum mengakhiri hari.
Ada begitu banyak kisah yang saya alami bersama dirinya. Kisah bodoh dan lucu serta kisah manis yang selalu membuat saya tersenyum, tidak peduli berapa kali saya mengulangi kejadian tersebut dalam memori.

Pertemuan pertama saya dengannya terjadi di waktu yang sama dengan pertemuan pertama saya dengan teman-teman baru di Semarang. Setelah pertemuan tersebut, saya, dia, dan anak-anak lainnya banyak menghabiskan waktu bersama, terutama setiap weekend, untuk menjelajahi kota Semarang dan kota-kota disekitarnya.
Saya tidak tahu sejak kapan persahabatan saya dengannya menjadi berbeda dari persahabatan saya dengan yang lainnya. Yang saya tahu, saya sangat menikmati setiap waktu yang kami habiskan bersama. baik saat kami bermain UNO bersama yang lain hingga tengah malam di Peacock, atau waktu berdua yang kami habiskan untuk berbincang mengenai banyak hal dari jam 8 malam hingga 6 pagi keesokan harinya di restoran McDonald 24 jam.
Waktu tidak pernah terasa cukup ketika berada bersama dia.

Saya menyukai kepribadiannya.
Saya menyukai kedewasaannya dan atensi penuh yang dia berikan di setiap perbincangan kami.
Saya menyukai fakta, bahwa bersama dia, saya bisa membicarakan apapun.
Dari isu perbankan, rencana investasi dan harga IHSG hari itu, hingga ke isu sosial, seksualitas, dan dilema kaum gay serta topik diskriminasi dan prasangka yang selama ini saya pelajari selama kuliah.
Ia selalu bisa menjadi sahabat atau pacar, di waktu yang tepat, ketika saya membutuhkannya.


Saya mencintai kesabarannya.
Saya mencintai caranya memperlakukan saya.
Saya mencintai tawa gelinya setiap kali ia melihat kebodohan yang saya perbuat.

Bagaimana ia hanya bisa terperangah ketika tanpa sengaja saya menumpahkan kuah soto di wajahnya, sementara saya yang masih tertawa histeris menyadari kebodohan diri sendiri belum bisa melakukan apa-apa untuk membersihkan kuah tersebut.
Atau bagaimana suara tawanya selalu terdengar di telepon setiap malam, ketika saya membagikan satu lagi cerita tentang kecerobohan yang saya lakukan.
Ya. saya suka semua tentang dia.
Just like people said, love starts from simple things.

Kini kami sedang tidak berada di kota yang sama. Saya kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah, sementara ia tetap di Semarang untuk menyelesaikan kewajibannya. Tetapi, bagi saya, jarak bukanlah masalah. Because distance is just a number, as long as the hearts stay close.
And my heart, is right next close to you.